Minggu, 10 Januari 2010

Jejaring Sosial, Kawan atau Lawan?

Facebook..Twitter..MySpace..Friendster…Netlog…siapa yang tidak kenal dengan nama-nama tersebut?. Dari orang dewasa, remaja bahkan anak-anak hampir semuanya mengetahui bahkan 90% merupakan pengguna dari situs-situs tersebut. Menurut profesor J.A. Barnes di tahun 1954, jejaring sosial adalah struktur sosial yang terdiri dari elemen-elemen individual atau organisasi. Jejaring ini menunjukan jalan dimana mereka berhubungan karena kesamaan sosialitas, mulai dari mereka yang dikenal sehari-hari sampai dengan keluarga.
Dari definisi tersebut jika dikaitkan dengan jejaring sosial di dunia maya dapat disimpulkan bahwa jejaring sosial merupakan “ajang” atau “sarana” berinteraksinya seseorang dengan orang lain baik dalam satu kelompok atau kelompok lain melalui media internet. Untuk menggunakan fasilitas jejaring sosial atau umumnya disebut sebagai situs pertemanan, cukup dengan hanya bermodal sebuah alamat email kita dapat membuat sebuah account di salah satu situs tersebut. Oleh karena itu siapa pun dapat menggunakannya.
Dari segi manfaat situs-situs pertemanan tersebut sebenarnya memberikan banyak manfaat. Dengan menggunakan situs ini kita dapat mencari “teman-teman lama” yang notabenenya sudah “hampir” kita lupakan karena terlampau lama tidak berkomunikasi. Bahkan kita dapat mencari teman lama yang sudah bermukim didaerah lain atau bahkan dinegara lain. Oleh karena itu jejaring sosial juga dapat dikatakan sebagai “fasilitator penyambung tali silaturahmi”. Kita jadi dapat “berteman kembali” dengan orang-orang yang pernah masuk ke kehidupan kita. Hampir semua jejaring sosial memberikan fasilitas dimana kita dapat “memberitahukan” kepada orang lain apa yang sedang kita lakukan bahkan kegiatan kita sehari-hari. Karena itu secara tidak langsung orang lain dapat mengetahui keberadaan kita, kegiatan kita saat itu dan lain-lain. Selain itu kita juga dapat saling bertukar informasi bahkan kadang info yang ada lebih “update” dibanding berita di televisi.
Selain itu jejaring sosial juga dapat digunakan sebagai “wahana” untuk memasarkan bisnis secara online. Tidak sedikit orang-orang yang menggunakan jejaring sosial untuk memasarkan produk yang mereka buat atau sekedar sebagai perantara. Seperti di Facebook misalnya dengan menggunakan fasilias Group kita dapat memasarkan produk yang kita jual. Hanya dengan memposting foto-foto produk kita lalu menambahkan deskripsi tentang produk, cara pemesanan plus harga jual serta mengundang orang untuk bergabung dalam Group. Jejaring sosial juga dilengkapi dengan aplikasi entertainment seperti games, link video dan music. Aplikasi tersebut tentu saja makin memanjakan para pengguna jejaring sosial.
Dengan banyaknya manfaat jejaring sosial kita tentu dapat beranggapan jejaring sosial sebagai “Kawan” bagi kita. Tapi kita harus berhati-hati. Jika kita tidak menggunakan aturan dan etika yang baik dalam ber”jejaring sosial”, fasilitas tersebut bisa saja menjadi “Lawan” bagi kita. Dalam kasus Luna Maya contohnya. Di kasus ini dari sudut pandang kita sebagai pihak ketiga, Luna Maya sebenarnya sah-sah saja untuk mengeluarkan uneg-uneg di jejaring sosialnya tapi alangkah baiknya jika etika dalam bersosialisasi juga digunakan seperti menggunakan kata-kata yang sopan atau tidak kasar. Kita juga sebagai pengguna jejaring sosial sebaiknya tidak “mengumpat” di fasilitas tersebut sebab hal tersebut bisa saja membuat orang yang membacanya menjadi tidak nyaman. Yang ada bukannya cari teman tapi musuh yang kita dapat.
Jadi sebaiknya dalam menggunakan jejaring sosial sebaiknya kita tetap memegang teguh etika dan aturan dalam berinteraksi dengan orang lain supaya tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Untuk menjadikan jejaring sosial ini “Kawan” atau “Lawan” bagi kita, semuanya kembali ke pilihan kita masing-masing. Manakah yang kita pilih? .

1 komentar:

  1. Seimbang, manfaat sama mudharatnya...
    pinter2 nyikapinnya ajalah :)

    http://greenblue.co.cc/

    BalasHapus