Selasa, 24 November 2009

Seberapa pentingkah EYD sekarang ini ?????

Ejaan yang disempurnakan atau yang lebih dikenal dengan singkatan EYD merupakan salah satu bagian penting dalam pembuatan suatu prosa/ karya sastra.  EYD adalah ejaan yang mulai resmi dipakai dan digunakan di Indonesia tanggal 16 agustus 1972. Ejaan ini masih tetap digunakan hingga saat ini. EYD adalah rangkaian aturan yang wajib digunakan dan ditaati dalam tulisan bahasa indonesia resmi. EYD mencakup penggunaan dalam 12 hal, yaitu penggunaan huruf besar (kapital), tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda hubung, tanda titik koma, tanda tanya, tanda petik, tanda titik dua, tanda kurung, tanda elipsis, dan tanda garis miring. Sewaktu kita duduk dibangku sekolah formal, . penulisan EYD menajdi satu hal yang baku dimana tidak boleh ada kesalahan dalam penulisan EYD tersebut.
           
Namun sekarang ini tampaknya EYD bukan merupakan satu hal yang “penting”dalam pembuatan sebuah karya sastra seperti cerpen, novel bahkan sebuah karangan pribadi. Kita ambil contoh buku-buku karya Raditya Dika, dari keempat bukunya hamper semua penulisan EYD-nya dapat disebut ‘berantakan”, namun karyanya tersebut bisa dibilang juga sebagai karya sastra. Selain itu banyak juga buku-buku novel yang rata-rata bergenre komedi hamper 75% tidak menggunakan EYD dengan baik dan benar. Dalam penulisan blog atau cerita karangan sendiri sekarang ini juga cenderung banyak yang menggunakan bahasa sehari-hari atau dengan kata lain “tidak menggunakan EYD dengan baik dan benar”.

Ada sebuah pedapat bahwa di dalam setiap karya fiksi, biasanya ada dialog dan narasi. Untuk dialog, tak ada aturan khusus bahwa harus bahasanya sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) atau aturan-aturan bahasa lainnya. Ucapan seorang tokoh tentu saja harus disesuaikan dengan karakter tokoh tersebut. Jika seorang tokoh biasa bicara dengan bahasa yang kacau misalnya, tentu kita harus menuliskannya persis seperti itu. Contoh lain: ketika kita menulis dialog anak kecil, tentu kita harus menulis dialognya dengan gaya khas anak-anak yang sering sekali tidak beraturan dari segi tata bahasa.
Jika kita menulis dialog yang sangat taat terhadap aturan bahasa, tentu dialog-dialog di dalam karya fiksi tersebut akan menjadi kaku, lucu, bahkan rancu. Coba bayangkan jika ada adegan di dalam sebuah angkutan kota. Si penumpang berkata pada sopir, “Pak Sopir, saya ingin berhenti di sini. Tolong pinggirkan mobil Anda, ya.”
Sedangkan untuk narasi, dalam hal ini ada “dua aliran”. Aliran pertama biasanya dianut oleh para penulis yang merupakan lulusan Fakultas Sastra. Menurut mereka, narasi pada karya fiksi harus ditulis dengan bahasa yang sesuai dengan aturan bahasa termasuk EYD.
Adapun aliran kedua, mereka cenderung lebih moderat, karena mereka menganggap bahwa aturan bahasa tak perlu diterapkan terlalu ketat di dalam karya fiksi. Sebagai contoh adalah buku-buku teenlit yang belakangan ini membanjiri pasar. Hampir semua narasi pada buku-buku seperti ini ditulis dengan bahasa yang tidak sesuai EYD.
Menurut saya, taat atau tidaknya suatu karya fiksi terhadap EYD tergantung dari jenis tulisan yang kita tulis. Untuk karya sastra serius, tentu harus taat terhadap EYD. Sedangkan untuk karya sastra populer semacam novel remaja dan sebagainya, tak ada salahnya kita berimprovisasi.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas tampaknya penggunakan EYD sekarang ini tidak terlihat “sebaku” dengan yang kita pelajari di sekolah formal dulu. Mungkin dalam beberapa karya sastra yang “formal” atau prosa-prosa lama, EYD menjadi satu hal yang “wajib” yang harus tercantum dengan baik dan benar, tapi untuk karya sastra “aliran baru” atau bias kita bilang sebagai “aliran diri sendiri” (menurut saya), EYD buan merupakan bagian penting atau bias dibilang hanya pelengkap, mungkin dari segi pembuatan EYD merupakan bagina penting tapi kalau dari segi isi atau peranan karya tuis itu sendiri bias dibilang tidak terlalu penting sebab yang terpenting merupakan isi dari karya tersebut , apakah isinya layak dan disenangi masyarakat atau tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar